Tidak terasa dalam hitungan beberapa minggu lagi kita akan memasuki bulan ramadhan 1437 H atau 2016 M. Mungkin beberapa diantara kita dalam menyambut Ramadhan lebih dipusingkan mengenai baju muslim mana yang dikenakan, sajadah mana yang akan dipakai, makanan apa yang harus dipersiapkan untuk sahur dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan duniawi. Padahal ada hal yang lebih penting lagi yang harus kita persiapkan menyambut bulan yang penuh rahmat ini. Menurut Pendiri Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, Ustad Bachtiar Nasir, beliau menyampaikan ada kira - kira 4 hal yang harus dipersiapkan oleh seorang muslim dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini diantaranya seperti : persiapan intelektual, mental, spiritual dan fisik.
Bachtiar mengatakan persiapan intelektual di sini maksudnya adalah jangan sampai seorang muslim berpuasa tetapi tidak mengerti ilmunya.
"Jangan sampai kita sahur tetapi tidak mengerti ilmunya, jangan sampai lailatul qodar tetapi tidak mengerti ilmunya, jangan sampai i’tikaf tetapi tidak mengerti ilmunya dan seterusnya. Persiapan intelektual seperti ini wajib karena prinsipnya al-Ilmu qoblal amal (berilmu sebelum beramal)" ujar Bachtiar yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Inelektual dan Ulama Muda Indonesia.
Menurut Bachtiar selanjutnya yang paling dibutuhkan saat bulan Ramadhan adalah persiapan mental. Sebab, syaitan tidak akan membiarkan seorang muslim menjadi pribadi yang baik manakala telah bertaubat di bulan Ramadhan. Sementara itu, di luar bulan Ramadhan syaitan berupaya membentuk kebiasaan yang buruk dalam diri seorang muslim.
"Nah, mana mungkin syaitan akan rela setelah seorang muslim bertaubat di bulan Ramadhan terus menjadi pribadi yang baik," cetus Bachtiar.
Untuk persiapan spiritual, Bachtiar menyebutnya sebagai persiapan imaniyah atau ruhiyah yang tidak boleh dilupakan karena paling penting dari semua persiapan lainnya.
"Misalnya, mempersiakan diri untuk bisa menahan nafsu dari setiap yang membatalkan puasa dari terbit hingga terbenamnya matahari, berdzikir sebanyak-banyaknya waktu pagi dan petang, tilawah qur’an di pertengahan siang dan malam, murojaah hafalan qur’an sambil mengurangi kesibukan-kesibukan yang mengurangi spiritualitas keimanan dan seterusnya. Semua itu butuh konsentrasi spiritual yang harus benar-benar dipersiapkan," jelas Bachtiar.
Bachtiar menambahkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah riwayat, "Beruntunglah mereka yang sudah siap ruhiyahnya di bulan Sya’ban karena mereka akan beruntung ketika bulan Ramadhan".
Dalam salah satu hadist mengatakan, Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
"Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengira beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah tidak berpuasa sampai-sampai kami kami mengira beliau tidak akan berpuasa. Tidaklah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam waktu sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa -di luar bulan Ramadhan- melainkan ketika bulan Sya’ban." (HR. Bukhari [1969, 1970, dan 6465] dan Muslim [1156]).
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya." (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)
Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja." (HR. Muslim no. 1156)
Dan yang tidak kalah pentingnya, lanjut Bachtiar, adalah persiapan fisik seperti pola tidur, pola makan, maupun menjaga kondisi tubuh dengan berolahraga. Jadi, ritmenya itu harus menyesuaikan waktu yang sudah Allah atur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
"Misalnya saat berbuka dalam sebuah riwayah dikatakan ‘Berbukalah dengan tamr kalau tidak ada maka berbukalah dengan seteguk air’. Nah, berbuka puasa itu target utamanya bukan mengenyangkan perut tetapi tohur (bersih) yaitu membersihkan tenggorokan dan pencernaan. Ini tadabur hadistnya. Jadi kalau pola makanan bermula dari tohur pasti kalau nggak tamr yah seteguk air, karena itu tohurnya dulu yang paling penting tidak seperti sekarang yang kebanyakan mengutamakan nutrisi dulu," papar Bachtiar.
Sementara itu, imbuh Bachtiar, untuk pola tidurnya jika kembali kepada surat al-Muzamil ayat 20, harusnya seorang muslim itu bangun dua pertiga malam, paling lambat setengah malam dan jika sudah sangat mepet-mepetnya sepertiga malam untuk qiyamul lail.
"Selain itu, jika dikembalikan pada surat al-Muzamil itu, bagaimana pun kondisi kita, baik sedang sakit, berbisnis, mudik lebaran, atau bahkan sedang dalam berperang sekalipun, maka kita harus membaca dan muroja’ah hafalan al-Qur’an minimal surat-surat yang sudah kita hafal," pungkas Bachtiar.
Semoga informasi singkat ini bermanfaat. Mari kita isi bulan Ramadhan ini dengan berbagai amalan, dan mari kita buat Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.
Sumber
http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/06/15/72000/empat-hal-yang-harus-dipersiapkan-menyambut-ramadhan.html
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon